Tentang Puasa

Orang bilang, terkadang pelajaran dari pengalaman itu lebih banyak bisa diresapi ketika kita mengalami hal serupa dan di waktu berbeda dengan selang waktu yang agak lama.  Entah ini adalah sebuah refleksi atas sebuah pengalaman atau hanyalah sebuah bualan rangkaian kata dari kepala yang sedang ingin menuangkan sedikit dari apa yang ada di dalamnya. Ini tentang puasa. More or less.

Sekali setahun, selama sebulan, semua umat muslim di dunia merayakan bulan suci dan melaksanakan kewajiban untuk menahan hawa nafsu dari subuh hingga magrib. Tahun lalu saya menjalani bulan puasa yang cukup panjang di musim panas Eropa, Inggris tepatnya. Setelah bertahun-tahun terbiasa puasa di suasana Indonesia dengan segala tradisi dan konsistensinya (baik dari segi kebiasaan, tradisi, waktu) menjalani sebulan penuh bulan puasa buat saya pribadi adalah pengalaman baru dan seru.

IMG_1420.JPG

Ketika Summer, bisa main bola dan terang seperti ini setelah jam 8pm

Well, seperti yang mungkin banyak sudah diketahui, musim panas di Eropa bisa sangat panjang dan juga panas, tergantung tempatnya. Di Inggris, hari bisa sudah terang jam 5 pagi dan gelap jam 9-10 malam. Itu berarti, waktu puasa bisa sampai 18-19 jam. Well untungnya, summer di Inggris adalah hari-hari hujan dengan udara lebih hangat dari biasanya, biasanya dengan angin kencang.

Anyway.

Melakukan sesuatu di tengah lingkungan asing yang tidak kenal dengan “budaya” puasa Ramadhan ini, di hari yang panjang, tentu adalah sebuah cerita tersendiri. Melakukan sahur, buka, dan segala ritual ibadah lainnya selama Ramadhan, tanpa ada suasana atau atmosfer puasa sama sekali dan sendiri di negeri yang asing, belajar mengakali waktu tidur, makanan yang dimakan, dan asupan air di waktu singkat, sebuah pengalaman berharga.

Diawali dari waktu magrib, yang biasanya sekitar jam 09.30 malam, lalu isya, yang biasanya mulai sekitar jam 11 malam, tarawih? Kalau ikut tarawih berjamaah di masjid, biasanya selesai jam setengah 1 pagi. Lalu bersiap sahur dan subuh biasanya jam setengah 3 sampai jam 3 pagi. Bisa dibayangkan bagaimana challenging-nya mengatur waktu tidur.

Beberapa hari pertama, buat saya hal itu cukup menantang dan struggling untuk beradaptasi, dengan beban kuliah sedang berada di titik pengerjaan disertasi, dan harus tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa tanpa adanya dispensasi khusus dari lingkungan sosial atau semacamnya seperti disini yang banyak jam kerja kantor-kantor atau kantor pemerintahan diadaptasi, atau anak sekolahan yang diliburkan beberapa hari, dsb. Apalagi anehnya, setelah belasan jam panjangnya tidak makan dan minum, buat saya pribadi setelah jam buka malah biasanya tidak ingin makan besar, pun ketika waktu sahur, sehingga harus sedikit dipaksakan untuk dibiasakan. Well saya memang tidak seperti beberapa teman-teman saya yang lebih niat mempersiapkan puasa Ramadhan dengan pemanasan puasa sunnah dari beberapa minggu atau hari sebelumnya, saya mah langsung aja gitu.

Well cukup hal umum dan trivialnya, yang mau saya ceritakan itu, bahwa malah berpuasa di Inggris dengan tanpa suasana Ramadhan seperti di Indonesia yang sepertinya kebanyakan adalah “tradisi” turun-temurun malah lebih benar-benar membuat saya melatih diri dan memaknai puasa dan balancing out myself emotionally and physically. Gimana maksudnya?

Begini, saya belajar bahwa practising fasting sebagai seorang muslim di tengah orang-orang yang tidak pernah tahu apa itu puasa atau malah tidak peduli dengan agama, adalah sebuah latihan ekstra, bahwa sesungguhnya sekaligus menjadi representasi muslim muda dari negara antah-berantah, menjelaskan tentang puasa, dengan aktivitas sehari-hari seperti biasa kecuali beradapmelatih kesabaran, reserving out myself to make see what is better to say and do and what is not.

Menikmati hari-hari seperti biasa dan tidak mengubah kebiasaan makan untuk buka atau sahur kecuali waktunya juga hal yang kalau dipikir-pikir, malah melatih kesederhanaan. Kecuali tetap membeli kurma atau membawa kurma kemana-mana (kalau masih belum pulang ketika malam tiba), tidak banyak hal yang biasanya saya rasakan di Indonesia, seperti makan besar ketika buka, pesta es, makan-minum yang manis, etc. Saya masak atau mempersiapkan menu makanan mingguan masih seperti biasa, yang ada malah lebih merasakan berbagi kebahagiaan ketika berbuka dengan berbagi makanan dengan orang lain. Entah itu sesama muslim, sesama pelajar Indonesia maupun sesama teman internasional.

DSC_1520

hanging out as normal, only it’s started later than usual

Oh iya, satu hal yang menarik juga, di musim panas, beberapa tempat technically tidak mengalami malam, atau tidak bisa dibilang benar-benar malam sehingga cukup sulit untuk menghitung kapan waktu isya dan subuh datang. Hal ini pada akhirnya memunculkan beberapa versi perhitungan kapan waktu isya tiba, kapan waktu subuh tiba, jam berapa suruq dengan metode-metode yang berbeda. Jadi jangan kaget kalau mendapat flyer jadwal waktu sholat dari komunitas atau masjid yang berbeda, bisa berbeda pula waktu isya, subuh dan syuruq-nya. (NB: kalau di musim dingin, yang berbeda adalah waktu masuk ashar-nya). Ribut? Nggak doong. Yaudah ummat-nya ngikut imam masjid setempat atau bebas mau ikut metode penghitungan mana yang paling diimani. Sering yang lucu adalah ketika sahur bareng di tempat teman, atau ada teman yang datang menginap untuk sahur bareng, yang satu sudah yakin sudah masuk waktu subuh yang berarti imsak makan minum, teman yang satu mengikuti perhitungan waktu subuh yang datang lebih siang, supaya bisa makan lebih banyak.

Bahkan dari sini, rasa keingintahuan saya mendorong saya untuk mempelajari indahnya sinergisme aturan waktu sholat dan pewaktuan hari di kehidupan manusia. Bagaimana waktu-waktu sholat lima waktu itu juga sinkron dengan pergerakan waktu di satu hari. Seperti Subuh yang berarti ketika sinar matahari mulai sedikit menyebar secara horisontal. Lalu waktu Isya dan astronomical dusk. Magrib dengan astronomical twilight. I come across many intereseting web pages, well, tidak secara langsung saling beterkaitan menjelaskan, tapi mencerna apa yang ditulis, seseorang yang mau memikirkannya bisa untuk memahami dan mencernanya, beberapa diantara laman yang menarik untuk disimak kalau penasaran. 1) 2) 3)

Nggak ada ribut-ribut perkara beda rakaat shalat tarawih. 8 silahkan, 20 silahkan, mau lebih juga monggo. Biasanya shalat jamaah tarawih di masjid adalah 8 rakaat. Dan saya juga tidak menemukan orang yang saling menyalahkan atau merasa lebih benar jumlah rakaat mana yang dilakukan. Namun memilih untuk tarawih di masjid adalah sebuah tantangan. Karena magribnya sudah cukup malam, isya pun datang lebih malam kan, nah bayangkan jalan pulang dari masjid jam 1 malam, bus sudah tidak beroperasi, dan suhu malam begitu menggigit.

Sebagai mahasiswa, perkara penghematan itu sebisa mungkin dilakukan kan, salah satunya adalah berburu takjil di waktu berbuka di masjid-masjid. Tidak seperti di beberapa daerah di Indonesia, yang masjid dan musholla pating tlecek dimana-mana, disana jumlah masjid cukup terbatas, dan bisa jadi cukup jauh. Tapi saya sempat merasakan suasana berbuka puasa bersama di masjid di tengah komunitas muslim internasional, unik dan bikin perut penuh. Untuk orang yang lidah dan perutnya cukup fleksibel soal rasa, pasti suka merasakan masakan dengan rasa yang tidak seperti makanan yang biasa dimakan. Nasi? Naaah. Penuh? Iya.

IMG_3419.JPG

and you got a fun iftar, dinner, sahoor and maghrib, isha’, tarawih, fajr prays in one packet with friends!

DSC_1546

Iftar at mosque with moslem brothers

Rasanya, puasa tahun lalu jadi begitu lebih mendamaikan dan memberi banyak pelajaran apalagi ketika direfleksikan. Apa yang salah dan tidak sebaiknya dilakukan ketika Ramadhan tahun lalu pun jadi lebih disadari dan semoga bisa terus dipelajari. Buat saya, berpuasa tidak perlu merasakan ribut-ribut soal perbedaan hari pertama dan terakhir Ramadhan, jumlah rakaat tarawih, atau ribut-ribut soal warung makan buka ketika siang hari. Gimana sih rasanya siang-siang jalan kaki mencium aroma roti, pasta, others fine cuisine, fish n chips dan DONER KEBAB dibakar  (gosh I craving for some kebab), atau ke taman melihat orang-orang berjemur (kalau sedang beruntung beberapa jam tanpa awan) dan bakar-bakaran barbekyu, diundang ke acara teman atau pesta tapi harus ijin ga makan-minum sampai waktu berbuka, menahan rasa awkward ketika hal itu membuat semua orang awkward harus makan minum atau tidak dan meyakinkan mereka kalau it’s okay dan tidak usah bingung ngeliat orang berpuasa.

Sekaligus menghadapi beberapa pertanyaan yang menantang yang pernah saya hadapi, yang paling saya ingat (karena tidak bisa jawab). “Why the hell your faith and God put you guys into prohibited from eat and drink from dawn to dusk and it is applies to everywhere in the world? Are your God is not aware that there are people lives north and south of Arab that may have very long daylight or very long night? Your God does not know that? Or your faith and so called religion can not be applied to people all around the world living all around places in earth? Man you guys are funny.” Cukup susah kan? It challenges your faith and your logic, and it is makes you always want to learn.

Jalan kaki kemana-mana ketika puasa, beraktivitas normal, tetap produktif dan semacamnya. Juga bonus belajar memahami tubuh sendiri dan asupan yang dibutuhkan agar tetap seimbang, dan juga bagaimana sebenarnya tetap mengolah raga dan tubuh ketika puasa. It’s a process that I learned quickly in a month in last year’s Ramadhan. Altough I have experienced years practising fasting during Ramadhan, I think and felt, it’s last year that finally I can I learned a lot and get rid of shallow things that usually come up during Ramadhan “tradition”. Gone that toxic advertising during Ramadhan that usually promotes “badan lemas ketika puasa”, toxic tv shows during sahur time or iftar time (TV shows is toxic anyway), shopping splurge and more expenses during the month (ironic!) and maybe one of the most important thing: How to behave and expressing opinions and learning about differences, what to keep within, and what (or how) to say. Juga sebuah pemahaman akan toleransi: bahwa jika toleransi masih harus diributkan, seharusnya begini, seharusnya begitu, maka itu belum bisa dikatakan toleransi. Tolerance is felt, not spoken shallowly.

Semoga sih tetap bisa bertemu Ramadhan-Ramadhan berikutnya, dan saya yang saat ini juga bukanlah orang yang ngerti-ngerti banget masalah keagamaan dan spiritual, paling tidak semoga bisa terus belajar dari berbagai proses dan pelajaran yang terjadi di kehidupan, juga pelajaran ketika bulan Ramadhan dan dipertemukan dengan orang-orang yang memberi pelajaran. Semua orang melakukan kesalahan dan kebodohan. Tapi manusia didesain untuk terus belajar. Bukan menyalahkan.

Selamat berpuasa!

  1. How we calculate Muslim prayer times(no date) Available at: http://www.moonsighting.com/how-we.html
  2. Ritual prayer: Its meaning and manner(no date) Available at: http://www.islamicsupremecouncil.org/understanding-islam/legal-rulings/53-ritual-prayer-its-meaning-and-manner.html
  3. What is twilight, dawn, and dusk?(2016) Available at: http://www.timeanddate.com/astronomy/different-types-twilight.html

 

Advertisements

One thought on “Tentang Puasa

  1. Pingback: Tentang Puasa – Pengajian AL-HIJRAH BRISTOL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s