Putting Rio Haryanto into context

image

Rio, racing driver terbaik dari yang pernah muncul di Indonesia.

Dia membawa demam F1 ke negara yang tidak pernah ada kultur motorsports, membuat banyak orang jadi kenal dan menonton F1. Di debutnya, dia gagal finis karena masalah mobil dan baru di race kedua dia baru finis di posisi 17. Dari 22 pembalap yang start, 17 finis, yang berarti dia finis terakhir. Bukan hasil buruk sebenarnya, hasil yang wajar dengan mobil Manornya. He’s fast, he’s smooth, consistent, dan learned a lot. Tapi kalau melihat kiprah teammate nya, Pascal Wehrlein yang mencuri perhatian dengan finish 15 dan bertarung dengan tim midfield, hasil Rio Haryanto bisa menjadi sedikit kabur dan banyak orang mempertanyakan kemampuannya.

Well, let put into context.

Seberapa banyak sih kompetisi karting dan sirkuit untuk mengasah talenta balap dan kontrol mobil di Indonesia? Ditambah lagi kompetisi balap berjenjang yang bisa dibilang tidak ada. Kerennya, dia bisa terus bersinar dan sempat menjuarai seri Formula BMW Asia tahun 2009.

Ada banyak jalan menjadi pembalap terpilih untuk mengendarai mobil F1, tapi yang jelas, semuanya butuh dana dan waktu serta talenta dan kerja keras untuk paling tidak punya kesempatan itu. Karena secara budaya balapan F1 ini berasal dari Eropa, jumlah pembalap Eropa memang lebih banyak, dan pembalap bisa memiliki sponsor pribadi, sponsor negara atau kota, sponsor orang tua, biaya sendiri, sampai jika beruntung, menjadi affiliated driver dari program Young Driver tim besar di F1.

Wehrlein adalah affiliated driver dari Mercedes AMG Petronas, bahkan masih terdaftar sebagai reserve driver mereka, yang berarti, jika sesuatu terjadi pada Nico Rosberg atau Lewis Hamilton sampai salah satu dari mereka harus melewatkan balapan, Pascal lah yang akan menggantikannya.

Oke, kembali ke Rio. Dengan dukungan finansial yang tidak sedikit, otomatis akan mengundang perhatian dari banyak orang di Indonesia. Ya, berlaga di F1 juga bukan perkara murah. Banyak driver rookie yang membeli seat balapan karena skill balapan kelas atas pun terkadang tidaklah cukup. Rookie di F1, yang datang tanpa rreputasi masih hijau, masih muda, tidak memiliki nilai tawar tinggi di tim F1 yang semuanya adalah konstruktor dan operator mobil tercanggih dan termahal di dunia. Otomatis mereka ingin driver terbaik dan yang memiliki nilai tambah, bisa itu reputasi kuat, juara dunia, calon juara, atau membawa dukungan finansial yang kuat, terutama untuk tim papan bawah.

Baca lebih banyak tentang ekspektasi untuk Rio disini.

Berjalan tiga seri, banyak yang mulai bertanya, kok Rio sepertinya sulit bersaing? Ada di belakang terus? F1 seperti apa sih? Sampai ke pertanyaan : itu Rio kok buang-buang duit, udah dibayarin malah ga juara.

Ada banyak faktor, tapi let me explained to you into few mainpoints.

1. Mobil. Timnya, Manor itu bukan tim besar. Performa mobil F1 kurang lebih ditentukan oleh faktor efisiensi mesin, power mesin, kualitas konstruksi, dan efisiensi aerodinamika. Nah, hal terakhir ini yang banyak memperanguhi kualitas performa mobil. Tim kecil, dengan minim dukungan finansial, tidak memililiki sumber daya riset yang mencukupi untuk menemukan solusi paling baik dan eksperimen-eksperimen penelitian untuk meningkatkan performa mobilnya, belum lagi membayar engineer-engineer yang banyak. Dari sini, sebenarnya hal paling ajaib tapi masuk akal yang bisa diraih adalah finish 10 besar, yang berarti dapat poin.

2. Kualitas Rio. Menurutku, Rio adalah big talent, mungkin bakat balap terbaik yang pernah muncul dari Indonesia. Sayangnya, kualitas dia tidak akan sama terasahnya dengan pembalap dari Eropa atau Amerika Utara. Alasannya? Akses kompetisi. Tidak banyak kesempetan kompetisi di tingkat nasional, regional sampai Asia yang berkualitas dan punya akses ke ajang global. Namun dengan segala keterbatasan itu, dia langsung kompetitif di GP3 dan bisa bersaing di GP2 sampai akhirnya properly racing an F1 car. Dan mungkin dia cukup terlambat untuk menerima coaching kelas dunia dari race driver coach macem Rob Wilson. Di Eropa dan Benua Amerika, pembalap muda berbakat banyak memiliki akses untuk mengasah kompetisi balapnya, dimulai dari karting, dan berjenjang hingga ke openwheel powerful racing cars macam Formula 4, Formula 3, GP3, GP2, Formula Renault, dsb. Ditambah akses young driver academy, sponsorship, dsb yang sangat membantu.

3. Rookie and rules. Rules F1 sekarang ini sangat menyulitkan driver rookie. Komunikasi radio ke pitwall dibatasi, tes tengah musim dilarang, tes pramusim dibatasi, dan akses simulator F1 menjadi harapan untuk mengasah kemampuan driving.

image

In the end, he is not a bad driver. Dia bukan pembalap pas-pasan yang cuma mengandalkan sponsor untuk masuk F1, pun bukan cuma buang-buang duit. Kalau nonton F1, lihat deh seberapa sering itu mobil Manor disorot. Logo dan brand Indonesia disorot secara global.

Di Shanghai, dia bahkan mencatatkan waktu lebih cepat daripada Fernando Alonso. Fastest lap Rio 1:42.009 dan Fernando 1:42.226. Well, memang ada banyak faktor dibalik catatan fastest lap. Namun, poinnya adalah, dia bisa cepat. Mungkin belum sekonsisten Pascal atau Fernando atau yang lain yang lebih berpengalaman. Dengan pengalaman yang lebih banyak, serta pembelajaran tentang F1 yang lebih baik, dia akan menjadi lebih baik.

Well, Rio memang sudah punya banyak ppendukung, terutama semenjak dia disorot dan masuk F1. Dan hal yang dia perlukan saat ini adalah dukungan dan less pressure from fans and public to perform. Karena pasti dia sudah kenyang pressure dari bosnya, tim, sponsor, dsb.

Belakangan saya mulai menemukan suara miring tentang dia dan suara untuk menarik dukungan dia untuk balapan, serta suara miring ngapain bayarin dia yang cuma finis di belakang, ga bisa juara, dsb. Well, kalau dari saya, dia satu dari 22 driver terbaik dunia. 22 orang terpilih, dari banyak orang lain yang ingin membalap dan masuk F1. F1 is cream of the crop, the best of the best, finest drivers they’re elites. Berkompetisi di level tertinggi motorsport dunia. Dan Rio ada di dalam situ. How cool is that? Dia bisa jadi inspirasi penerusnya, atau mungkin awal dari iklim motorsport mobil yang baik di Indonesia.

Kalau di negara ini, sebuah olahraga yang tidak pernah memberikan prestasi, mengundang rusuh penonton, korupsi pengurus, sampai semua hal semrawut di dalamnya, bisa mendapatkan dukungan baik support dana maupun non material. Saya rasa Rio, dan pembalap muda Indonesia di GP2, layak terus didukung dan tidak diserang terus menerus.

Oh iya, poinnya tulisan ini sebenarnya bukan paragraf terakhir diatas sih.

Let’s talk on twitter: fikri_rahman. Or post your thought.

(Image used are copyright to its respective owner, not owned by me)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s